Minggu, 27 Maret 2011 | By: Menulis Itu Mudah....

Memanfaatkan Hutan Tanpa Merusak “Eksplorasi di Desa Sambora, Toho”

Oleh : Dedek Kurniawati

Pendaftaran untuk menjadi peserta dalam kegiatan eksplorasi ini dibuka dari tanggal 14-20 Maret. Biaya pendaftaran kegiatan ini adalah Rp 45.000,00. Untuk lebih jelas, panitia telah menyebarkan pamflet yang berisikan pengumuman kegiatan eksplorasi ini di area Fakultas Kehutanan. Kegiatan yang diadakan oleh UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di Fakultas Kehutanan ini dilaksanakan dalam rangka untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati flora dan fauna di Desa Sambora, Toho. “Insya Allah kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 1 april sampai dengan 3 april, di sana para peserta eksplorasi akan melakukan

kegiatan seperti mengidentifikasi flora dan fauna misalnya seperti kelewar, rayap dan tanaman obat. Selain itu, kami akan mengkonsultasikan dengan masyarakat setempat mengenai berbagai jenis tanaman yang sering digunakan oleh masyarakat setempat sebagai obat tradisional”, jelas ketua panitia Faqih Sahadat.

Semua panitia bekerja keras untuk menyukseskan acara ini, karena acara ini juga mendukung aktivitas akademik mahasiswa Kehutanan. Menurut mahasiswa Fakultas Kehutanan Hendriadi yang berperan sebagai seksi acara dalam kegiatan eksplorasi ini (22), “Kegiatan ini dapat menambah wawasan bagi kami mahasiswa kehutanan, terutama dalam mengenal jenis flora dan fauna yang belum pernah kami lihat. Di sana akan dibagi menjadi tiga kelompok yang pertama kelompok percinta kelelewar, pecinta rayap dan pecinta tanaman obat,” jelasnya.


Dijelaskan pula oleh Hendriadi bahwa kegiatan ini bermanfaat untuk mengidentifikasi tanaman yang berpotensi menjadi obat dan jenis spesies fauna yang belum diidentifikasi sehingga mendapat penemuan spesies baru sebagai pembelajaran bagi mahasiswa kehutanan dan diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Banyak mahasiswa Fakultas Kehutanan yang mengikuti acara ini, satu diantaranya adalah Isaniyah (20), “Dalam kegiatan ini terdapat tiga bidang minat salah satunya bidang tanaman obat, saya sangat tertarik dengan tanaman obat sehingga nantinya dapat membantu saya untuk menyelesaikan tugas akhir mengenai tanaman obat, serta disitu kita dapat membantu masyarakat serta mengidentifikasi tumbuhan baru yang dapat bermanfaat. Tanpa merusak hutan, kita dapat menguntungkan bagi masyarakat. Tidak perlu berkutat pada ilegaloging atau pengrusakan hutan sehingga kita dapat membuka pikiran kita bagaimana cara memanfaatkan hutan tanpa merusaknya.”, jelasnya dengan antusias.

Proses keberangkatan menuju Desa Sambora direncakan pada jumat pukul 14.00 dengan menggunakan kendaraan bis yang berjumlah sekitar tiga buah tergantung banyaknya peserta yang mengikuti kegiatan ini. Sesampainya, para peserta dan panitia akan berjalan kaki menuju lokasi camp (tempat peristirahatan) dan selanjutnya akan mendirikan tenda untuk menginap.

Kegiatan awal akan dilakukan dimalam pertama yaitu kegiatan pengamatan terhadap jenis fauna khususnya kelelawar untuk mengetahui perilaku hewan tersebut. Kegiatan ini dilakukan dari pukul 17.00 hingga pukul 02.00. Memang sudah diketahui bahwa kelelawar itu merupakan mamalia yang aktif pada malam hari atau disebut nokturnal, hanya saja pada kegiatan ini para peserta diajak untuk mengidentifikasi jenis kelelawar dengan melakukan pengamatan terhadap perilaku spesies ini dimalam hari. Kegiatan pengamatan dimalam hari akan dilaksanakan secara berkelanjutan dimalam-malam berikutnya, hingga pada hari terakhir kegiatan.

Selanjutnya pada kegiatan mengidentifikasi tanaman obat dan rayap dilakukan pada siang hari agar dapat dalam melakukan pengamatan dengan seksama. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga pukul 15.00 yang tentu juga termasuk waktu untuk “ishoma”, istirahat, sholat dan makan. Kegiatan yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan sharing kepada masyarakat setempat mengenai obat-obatan tradisional yang sering digunakan yang bahan bakunya diperoleh dari hutan tersebut. Dengan demikian diharapkan dari penjelasan masyarakat tersebut dapat membantu peserta eksplorasi untuk mengidentifikasi jenis tanaman obat yang berada dihutan tersebut.

Dijelaskan pula oleh satu diantara tim Garda, Herianto (21) bahwa saat melakukan survey lokasi tidak terjadi masalah yang terlalu berarti terutama dari masyarakat setempat.Kegiatan tersebut berlangsung dengan dibantu oleh wakil dari masyarakat setempat yang juga mendampingi panitia dan peserta dalam melakukan proses pengamatan seraya menunjukkan dan menjelas ciri-ciri tanaman obat tersebut. Peran serta masyarakat daerah setempat sangat dibutuhkan dalam kegiatan ini. Hal ini juga menunjukkan bahwa masyarakat setempat juga sangat mendukung kegiatan ini.

Kegiatan mengidentifikasi rayap dilakukan pada waktu yang sama dengan kegiatan mengidentifikasi tanaman obat, hanya saja pembagian kelompoknya yang berbeda sehingga lokasi pengamatan juga berbeda. Pengamatan jenis rayap ini, dilakukan dengan cara mengambil sample sarang rayap beserta rayapnya untuk selanjutnya diidentifikasi lebih lanjut. Berdasarkan penelitian dari seorang dosen dari Fakultas Kehutanan Dra. Farah Diba, S.Hut., M.Si., bahwa liur dari hewan rayap tersebut dapat dimanfaatkan sebagai perekat (lem) kayu. Untuk itulah penelitian ini sangat bermanfaat.

Hasil dari kegiatan ini akan dipublikasikan kepada masyarakat luas. Menurut Maysarah (21) seksi publikasi dan dokumentasi dari kegiatan ini, “Kegiatan ini akan didokumentasikan ke dalam sebuah poster yang memuat foto-foto kegiatan dan hasil identifikasi flora dan fauna yang ada di Desa Sambora, Toho.”. Dijelaskan pula oleh Maysarah bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana pengenalan kepada masyarakat mengenai keanekaragaman hayati flora dan fauna yang ada di desa tersebut dan juga sebagai sarana mengkampanyekan kegiatan eksplorasi hutan tanpa harus merusak kondisi serta penghuni alam di daerah setempat.

0 komentar:

Poskan Komentar